Postingan

Serendipity

Semesta senang sekali bercanda dengan pertemuan-pertemuan yang tidak terencana.  Kebetulan-kebetulan yang seperti percikan air,  Membuat bahagia di hati mengalir.  Meski hanya sesaat merekah,  Senyum sore itu menjadi berkah.  Seolah segala yang terjadi setelahnya terasa indah.  Kamu seperti takdir bagiku, mengejutkan.  Datang saat tak ada yang kuharapkan.  Meski pertemuan itu tak pernah berjalan sebaik yang pernah kusemogakan. Setidaknya, hal itu mengingatkanku bahwa masih ada yang bisa membuatku berdebar.  Dulu, pertemuan kita juga hanya sebatas berpapasan. Di gerbang sekolah, di persimpangan jalan, di bus kota, di tempat-tempat tak terduga.  Sekolah kita berbeda, tetapi semesta senang sekali mengatur pertemuan tak sengaja.  Sekadar menghiburku yang sedang terluka atau saat aku berduka.  Kita tak pernah berkenalan, kita hanya sebatas pernah papasan. Di sekolah tempat pertama kita bertemu.  Aku bukan orang yang mudah mengi...

Loneliness

Menjadi terasing di antara orang-orang terdekat benar-benar menyakitkan.  Sedang menjadi asing di antara mereka sangat membuat kesepian.  Bagaimana orang-orang yang kesepian bisa bertahan sebegitu hebat sendirian?  Saat bahagia tiada singgah, sedang kesedihan masih nyaman bertahan.  Pada akhirnya kita, hanya akan saling mengasingkan di depan semua orang.  Dan aku, adalah yang terjahat di antara kita. Membiarkan orang lain terluka dan pergi begitu saja.  Di mata orang-orang yang memihak, sebesar apa pun kesedihan yang menggantung di hati yang lain, tak akan pernah ada artinya.  Kita, kurasa tidak akan pernah bisa saling mengerti saat di hati hanya ada rasa iri.  Bagaimana bisa saling menyembuhkan duka, jika saat ini kita malah saling menorehkan luka.  

Weltschmerz, "WorldPain", Melancholy

 Malam ini, semua perasaan sepi dan kehilangan itu kian membuncah. Perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan selama ini begitu menyiksa, seperti memaksa untuk dikeluarkan semua. Bagaimana akhirnya aku harus menahannya? Semenjak kehilangan terbesar dalam hidupku selama beberapa waktu terakhir ini, rasanya aku sudah berusaha begitu keras menahan perasaan apapun untuk diluapkan, menahan cerita apapun untuk tersampaikan, mengunci mulutku rapat-rapat dan membiarkan diri ini tidak pernah lelap dalam malam-malam yang makin mencekam.  Jika kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan, lantas mengapa melarang seseorang untuk bersedih? Mengapa mengatakan hal-hal yang dari awal membuat seseorang menahan segala perasaan sedihnya untuk diungkapkan?  "Aku pernah kehilangan, bahkan saat itu usiaku jauh lebih kecil darimu" Kenapa kalimat seperti itu selalu datang bahkan di saat aku belum sempat mengungkapkan kesedihanku, seperti melarangku bersedih, seolah sudah memberikan batasan untukku tida...

Malam Menuju Pejam

Akan ada saat di mana seseorang tidak bisa menanggung semua bebannya seorang diri. Menjadi kuat, bisa diandalkan, berguna untuk orang-orang sekitar, bukan hal yang mudah dilakukan.  Setiap orang itu berbeda.  Dan untukku, yang sejak dulu bahkan tidak pernah merasa berguna, selalu merasa tidak bisa diandalkan. Kini, aku sudah mulai belajar menerima keadaan diri sendiri, mulai bisa belajar menganggap diri sendiri bisa bermanfaat dengan memulai melakukan hal-hal yang bisa kulakukan. Tapi kenyataannya, aku tidak sesanggup itu. Tidak berguna, tidak bisa diandalkan, selalu salah bertindak.  Perasaan-perasaan seperti itu, kenapa selalu muncul justru di waktu dan tempat di mana aku harusnya merasa nyaman?  Bahkan datang dari orang-orang yang kuharap bisa membesarkan hatiku.  Aku terluka? Ya, hatiku tidak pernah baik-baik saja. Tidak pernah membaik, bahkan saat mencoba untuk tetap bersikap biasa saja.  Maafkan aku diriku, aku tidak bisa membuatmu lebih berharga bagi...

Marah

Aku merasa asing padahal kita selalu bersama, Hatiku terasa jauh padahal raga kita sangatlah dekat. Isi kepalaku riuh tak bisa keluar, tapi lidahmu begitu ringan menyuarakan. Lantas apa yang terjadi? Kita menjadi tidak sepaham, Aku merasa menjadi yang terluka, dan kamu bagiku begitu melukai. Kita menjadi dekat yang saling mengasingkan. Aku dengan isi kepalaku, dan kamu dengan kata-katamu. Aku dengan khawatirku, dan kamu dengan putus asamu. Padahal kita tahu, marah tak pernah membaikkan siapa pun, Ia mengasingkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, Tapi kita terbuka sekali menerimanya. Kini, Marah telah menelan habis segala rasa, Hingga yang tersisa hanya kita yang saling menyakiti. Dengan hati yang tak lagi saling tertambat, dan raga yang menjauh saling membelakangi. Menghancurkan yang utuh menjadi kepingan sabar yang tersebar, Tak genap saat dipungut, dan tak bisa direkat kembali utuh. Semoga kita bisa lekas belajar, Bahwa pada akhirnya...

Resensi Novel "Selena" dan "Nebula" Karya Tere Liye

Gambar
Membaca karya fiksi fantasi selalu menjadi satu hal yang paling menarik menurutku, terlebih jika karya tersebut berseri, selalu membuat semakin penasaran. Berikut akan saya rekomendasikan beberapa bacaan yang bisa menemani waktu luang kalian di mana pun kalian berada. Selena dan Nebula adalah buku ke -8 dan 9 dari serial Bumi yang menceritakan petualangan tokoh Raib, Ali dan Seli. Untuk penggemar Ali dkk pasti sangat senang dan selalu menantikan cerita-cerita lanjutannya. Seperti semua pecinta buku fiksi, pembaca pasti suka sekali menebak isi dan akhir cerita yang tak berkesudahan ini. Sama sekali tidak membosankan menantikan kelanjutan petualangan Ali dkk. Bagi mereka yang bahkan belum membaca buku pertama, BUMI, harusnya lebih penasaran tentang apa buku-buku ini hingga banyak sekali dinantikan oleh para pecinta buku. Tere Liye adalah sosok penulis yang hebat, dia membuat alur cerita yang selalu memantik rasa ingin tahu pembaca sehingga terus menantikan karya-karyanya. Pen...

Catatan 1 Syawal 1441 H

Malam ini, tak hanya gema takbir yang riuh bersahutan dari segala penjuru. Notifikasi pesan masuk aplikasi percakapan juga tak kalah riuhnya. Sederet kalimat permohonan maaf yang dirangkai menjadi paragraf yang indah merupakan isi dari setiap pesan masuk. Meminta maaf adalah cara berdamai dengan hidup, sedangkan memaafkan adalah seni melepas rasa sakit. Membersamai permohonan maaf, ada ungkapan yang tak kalah riuh. Ada banyak ingin yang ikut riuh memenuhi sepanjang malam. Ingin apa? Menghimpun remah rindu yang terserak oleh jarak. Rindu-rindu yang belum bisa dijemput di pemberhentian antar kota. Yang tak bisa pergi kemana-mana, padahal rasanya makin besar dan tak tertampung. Saat ini, rindu-rindu yang tertumpuk terasa makin berat. Mungkin satu-satunya cara menguranginya adalah dengan bersua. Tapi keadaan belum mengizinkan, hingga rasanya sangat menyesakkan. Semoga doa dan sapa virtual mampu menjembatani rindu itu. Hingga tak perlu lagi resah akan jarak. Semoga jarak bisa menj...